Fungi dan Cendawan

17 09 2008

Fungi atau cendawan adalah organisme heterotrof atau memerlukan senyawa organik untuk memenuhi kebutuhan nutrisinya. Pada umumnya struktur fungi terdiri atas hifa atau misellium, spora seksual dan aseksual, badan buah, dasar badan buah dan tangkai badan buah. Misellium merupakan kumpulan beberapa filament yang dinamakan hifa (Pelczar, 1986). Beberapa fungi yang hidup secara parasit pada lingkungan akuatik antara lain adalah kelompok cendawan Oomycetes, yaitu Saprolegnia, Achlya, dan Aphanomyces (Bruno dan Wood, 1999 dalam Mulyani, 2006).





Aphanomyces

17 09 2008

Cendawan Aphanomyces memiliki miselium berdiameter 5-15 mikron dan sedikit bercabang. Zoospora muncul pada ujung sporangium dalam bentuk memanjang kemudian menjadi kista di sekitar ujung sporangium. Hifa bercabang, tidak bersepta, dan berpigmen (Alderman, 1982 dalam Mulyani, 2006).

Klasifikasi cendawan Aphanomyces menurut Scott (1961) dalam Mulyani (2006) adalah sebagai berikut :

Filum : Phycomycetes

Kelas : Oomycetes

Ordo : Saprolegnialis

Famili : Saprolegniaceae

Genus :

Menurut Robert et al. (1978) dalam Mulyani (2006), salah satu cirri parasi cendawan ini adalah menghasilkan kantung spora lebih dari satu dan keluar dari tengah (samping) hifa, sedangkan cirri saprofitik hanya menghasilkan satu kantung spora yang keluar dari bagian terminal (ujung hifa). Cendawan ini merupakan penyebab utama penyakit EUS (ulceratif epizootic syndrome) pada ikan (Rukyani, 1994 dalam Mulyani, 2006). Gejala klinis dari EUS antara lain bercak putih pada daging bawah kutikula (terlihat jelas di bawah mikroskop), dan pada beberapa kasus timbul warna kecoklatan pada kutikula atau otot.

Pada umumnya penyakit EUS yang diakibatkan oleh Aphanomyces sp. Sering terjadi pada alkalinitas rendah dan pH perairan yang rendah. Perairan asam merupakan daerah yang mudah dikuasai oleh cendawan akuatik berkisar antara pH 4-7 (Griffin, 1981 dalam Rahman, 2003). Beberapa usaha telah berhasil dilakukan untuk mencegah serangan cendawan ini adalah menikka pH dan alkalinitas dengan cara pengapuran (Lilley et al, 1992 dalam Rahman, 2003). Nilai alkalinitas yang baik pada budidaya secara umum berkisar 10-400 ppm, sedangkan pH yang baik adalah 7-8.5 (Suyanto, 1992 dalam Rahman, 2003).

Beberapa ciri cendawan Achlya hampir mirip dengan Saprolegnia. Perbedaan yang terlihat antara lain adalah sporangium yang terbentuk di ujung hifa, hifa bercabang dan transparan. Selain itu, cendawan ini memiliki tiga tahap zoospora yang disebut polyplanetism, zoospora keluar secara bergerombol dan selanjutnya terbentuk zoospora sekunder dan tersier. Pembentukan siste primer terjadi di mulut sporangium, dan zoospora masih bergerombol. Pembentukan sporangium kedua dengan cara membentuk cabang di bawah sporangium utama yang telah kosong. Pada reproduksi seksual, setiap oogonia menghasilkan 1-10 oospora (Sharma, 1989 dalam Mulyani, 2006).





Saprolegnia

17 09 2008

Saprolegnia merupakan cendawan berfilamen, organisme tidak bersekat (koenositik) yang hidup pada habitat air tawar dan untuk mendapatkan makanan mereka hidup secara saprofit atau parasit (Hughes, 1994 dalam Mulyani, 2006). Klasifikasi Saprolegnia menurut Scott (1961) dalam Mulyani (2006) adalah sebagai berikut :

Filum : Phycomycetes

Kelas : Oomycetes

Ordo : Saprolegnialis

Famili : Saprolegniaceae

Genus : Saprolegnia

Ciri lain yang dimiliki oleh Saprolegnia adalah memiliki sporangium yang berdiameter 100 mikron, lebih lebar dari hifanya. Beberapa contoh yang bersifat patogen pada ikan adalah Saprolegnia parasitica (penyebab ulterative dermal necrosis pada salmon), Saprolegnia diclina dan Saprolegnia ferax (Neish dan Bruno, 2002 dalam Mulyani, 2006). Gejala umum serangan fungi ini adalah badan ikan ditumbuhi benang-benang halus berwarna putih, daerah penyerangan meliputi kepala, tutup insang, sirip, dan bagian tubuh lainnya, serta menyerang telur (Brown dan Bruno, 2002 dalam Mulyani, 2006).





Prevalensi dan Intensitas Parasit (Tingkat Penularan)

17 09 2008

Tingkat penularan penyakit pada umumnya dinyatakan dengan prevalensi kejadian dan intensitas parasit. Prevalensi adalah persentase ikan yang terinfeksi dibandingkan dengan seluruh ikan contoh yang diperiksa. Sedangkan Intensitas merupakan jumlah rata-rata parasit per ikan yang terifeksi. Prevalensi dan Intensitas tiap jenis parasit tidak selalu sama karena banyaknya faktor yang berpengaruh, salah satu faktor yang berpengaruh adalah ukuran inang (Dogiel et al., 1970 dalam Awilia, 2002).

Kemudian Noble dan Noble (1989) dalam Martiadi (2002) menyatakan bahwa pada beberapa spesies ikan, semakin besar ukuran/berat inang, semakin tinggi infeksi oleh parasit tertentu. Inang yang lebih tua dapat mengandung jumlah parasit yang lebih besar, meskipun apabila telah terjadi saling adaptasi maka inang menjadi toleran terhadap parasitnya. (Noble and Noble, 1989).





Hubungan antara parasit dengan inang

17 09 2008

Parasit adalah organisme yang hidupnya dapat menyesuaikan diri dengan inangnya, sangat tergantung pada inangnya sebagai habitat dan pemberi makannya dan merugikan organisme yang ditempelinya (inang) (Noble and Noble, 1989). Menurut Kabata (1985) parasit dapat dibagi menjadi 2 kelompok yang berbeda yaitu ektoparasit dan endoparasit, menurut letak organ yang terinfeksi oleh parasit. Ektoparasit adalah parasit yang melekat pada bagian permukaaan tubuh, sedangkan endoparasit adalah parasit yang hidup di dalam tubuh inang, seperti saluran pencernaan, hati dan organ lain (Olsen, 1970).

Menurut Fernando et al. (1972), setiap jenis parasit mempunyai habitat yang berbeda pada organ inang sebagai tempat hidupnya, parasit yang menginfeksi pada bagian luar tubuh adalah Protozoa, Monogenea, Copepoda. Sedangkan parasit yang menyerang bagian dalam tubuh ikan adalah Protozoa, Digenea, Acanthocephala, nematode dan Crustacea.

Akibat dari infeksi parasit ini akan memberikan perubahan-perubahan baik pada jaringan organ tubuh maupun perubahan sifat-sifat inang secara umum (Dogiel, 1970 dalam Nourina, 2002). Sachlan (1981) dalam Martiadi (2002) menyebutkan bahwa parasit dapat merugikan inangnya dengan banyak cara, yaitu dengan menimbulkan luka-luka, dengan memakan dan menyerap jaringan tubuh inang.

Dikatakan juga oleh Axelrod et al. (1974) dalam Nourina (2002) bahwa penyakit ikan timbul dari interaksi antara jasad penyebab penyakit ikan dengan lingkungannya. Hubungan antara inang dengan parasit merupakan hal yang kompleks karena banyaknya faktor yang berpengaruh. Penyebaran setiap parasit pathogen terhadap inangnya antara lain ditentukan oleh umur dan ukuran inang, daya tahan inang, musim dan lokasi geografisnya (Noble and Noble, 1989).





Endoparasit Pada Ikan Air Tawar

17 09 2008

Yach sekarang waktunya ngomong yang berat berat dan sebenernya tentang sesuatu yang gue sendiri ga suka tetapi penyakit itu kan merupakan faktor yang sangat penting dalam budi daya!!!

Tanpa kendali yang baik pada penyakit siap siap aja lo merugi kalau mau budi daya ikan!!!

Endoparasit (parasit yang berada dalam tubuh ikan) yang mungkin menginfeksi ikan air tawar adalah dari golongan Metazoa. Dari golongan Metazoa yang mungkin menginfeksi ikan air tawar adalah filum Plathyhelminthes, Nemathelminthes dan Acanthocephala (Kabata, 1985).

Filum Plathyhelminthes

Dari filum Plathyhelminthes yang mungkin menyerang ikan air tawar, termasuk juga ikan konsumsi adalah Digenea (Kabata,1985).

Digenea

Digenea adalah trematoda endoparasit yang memiliki siklus hidup kompleks yang melibatkan satu atau lebih inang antara. Digenea umumnya berbentuk pipih seperti daun dengan struktur mirip turbelaria free living. Tubuh lunak dan terdiri 2 sucker, faring, kaekum intestinalis, sistem reproduksi. Bentuk dasar tubuh digenea dewasa bermacam-macam.

Digenea yang telah diketahui mendekati 400 genera dan sedikitnya 4000 spesies yang menyerang ikan. Parasit ini memperlihatkan inang spesifisitas yang tinggi terutama pada inang antara yang pertama dan pada inang akhir. Organ yang diserang pada inang akhir adalah organ internal seperti saluran gastrointernal dan organ yang berdekatan seperti hati dan empedu, paru-paru, gelembung renang serta saluran darah.

2.2.2 Filum Nemathelminthes

Dari filum Nemathelminthes yang mungkin menyerang ikan air tawar, termasuk juga ikan-ikan konsumsi adalah Nematoda (Kabata,1985). Nematoda sering juga disebut cacing “gilig”, biasanya kecil bila dibandingkan dengan cacing pipih, sehingga banyak diantara nematode adalah cacing yang mikroskopis (Nable dan Nable, 1989). Menurut Kabata (1985), nematode ini mempunyai tubunh panjang dan silindris dan dilindungi oleh lapisan kutikula yang kuat dibawahnya terdapat lapisan hypodermis. Sedangkan Noble dan Noble (1989) mengatakan bahwa cacing ini sangat aktif, ramping, biasanya kedua ujungnya runcing dan mempunyai mulut dan anus, jadi cacing ini mempunyai saluran pencernaan yang lengkap.

Ciri taksonomi terpenting dari Nematoda adalah terletak di bagian kepalanya, dimana mempunyai bentuk yang lonjong dan di dalamnya terletak ganglion kepala (Kabata, 1985). Saluran pencernaan Nematoda berupa tabung sederhana terdiri dari sel-sel yang tersusun dalam lapisan tunggal. Mulut menuju kapsula bukali, kemuduan ke esophagus yang berotot yang selanjutnya ke usus. Anus terdapat hamper di ujung posterior cacing dan sebuah pelebaran yang dinamakan rectum terletak tepat di ujung anterior usus. Makanan nematode terdiri dari jaringan-jaringan hospes darah atau pemotongan jaringan dari usus hospes dan akhirnya dicerna (Noble dan Noble, 1989).

Dalam perkembangan hidupnya, nematode menggunakan ikan sebagai inang definitive maupun sebagai inang antara dari siklus hidup Nematoda. Dari empat tingkatan larva, keempat merupakan stadia infektif teerhadap inang definitif (Kabata, 1985).

Filum Acanthocephala

Pada ikan air tawar, parasit metazoan yang mungkin menyerang adalah dari Acanthocephala, dimana filum ini semuanya merupakan parasit. Bentuk tubuh luar yang dapat dikenali dari Acanthocepala adalah adanya proboscis, leher dan trunk (Kabata, 1985). Sedangkan menurut Noble dan Noble (1989), filum Acanthocephala ini disebut cacing kepala berduri karena adanya kait-kait mirip duri pada probosisnya (acanth berarti duri dan cephala berarti kepala). Acanthocephala merupakan caing yang berbentuk silinder, agak pipih dan mempunyai proboscis yang dapat dimasukkan dan dikeluarkan dari tubuhnya yang berada di ujung anterior tubuh (Kabata,1985).

Untuk mengidentifikasi spesies dari Acanthocephala adalah jumlah dan susunan kait pada probosis. Probosis berbentuk bulat atau silindris, dilengkapi baris-baris kait atau spina yang membengkak yang berguna untuk melekatkan tubuh cacing tersebut pada usus inangnya (Noble dan Noble, 1989).





Darah Ikan

17 09 2008

Darah merupakan salah satu komponen sistem transport yang sangat vital keberadaannya. Fungsi vital darah di dalam tubuh antara lain sebagai pengangkut zat-zat kimia seperti hormon, pengangkut zat buangan hasil metabolisme tubuh, dan pengangkut oksigen dan karbondioksida. Selain itu, komponen darah seperti trombosit dan plasma darah memiliki peran penting sebagai pertahanan pertama dari serangan penyakit yang masuk ke dalam tubuh.

Gambaran darah suatu organisme dapat digunakan untuk mengetahui kondisi kesehatan yang sedang dialami oleh organisme tersebut. Penyimpangan fisiologis ikan akan menyebabkan komponen-komponen darah juga mengalami perubahan. Perubahan gambaran darah dan kimia darah, baik secara kualitatif maupun kuantitatif, dapat menentukan kondisi kesehatannya.

Hemoglobin merupakan protein yang terdiri dari protoporfirin, globin dan besi yang bervalensi 2 (ferro). Satu gram hemoglobin dapat mengikat sekitar 1,34 ml oksigen. Kadar hemoglobin yang rendah dapat dijadikan sebagai petunjuk mengenai rendahnya kandungan protein pakan, defisiensi vitamin atau ikan mendapat infeksi. Sedangkan kadar tinggi menunjukkan bahwa ikan sedang berada dalam kondisi stress (Wells, 2005 dalam Kuswardani, 2006).

Hematokrit merupakan persentase volume eritrosit (sel darah merah) dalam darah ikan. Hasil pemeriksaan terhadap hematokrit dapat dijadikan sebagai salah satu patokan untuk menentukan keadaan kesehatan ikan, nilai hematokrit kurang dari 22% menunjukkan terjadinya anemia. Kadar hematokrit ini bervariasi tergantung pada faktor nutrisi, umur ikan, jenis kelamin, ukuran tubuh dan masa pemijahan (Kuswardani, 2006).

Eritrosit (sel darah merah) merupakan sel yang paling banyak jumlahnya. Inti sel eritrosit terletak sentral dengan sitoplasma dan akan terlihat jernih kebiruan dengan pewarnaan Giemsa (Chinabut et al., 1991 dalam Mulyani, 2006). Pada ikan teleost, jumlah normal eritrosit adalah 1,05×106 – 3,0×106 sel/mm3 (Robert, 1978 dalam Mulyani, 2006). Seperti halnya pada hematokrit, kadar eritrosit yang rendah menunjukkan terjadinya anemia. Sedangkan kadar tinggi menandakan bahwa ikan dalam keadaan stress (Wedemeyer dan Yasutake, 1977 dalam Purwanto, 2006).
Leukosit (sel darah putih) mempunyai bentuk lonjong atau bulat, tidak berwarna, dan jumlahnya tiap mm3 darah ikan berkisar 20.000-150.000 butir, serta merupakan unit yang aktif dari sistem pertahanan (imun) tubuh. Sel-sel leukosit akan ditranspor secara khusus ke daerah terinfeksi. Leukosit terdiri dari dua macam sel yaitu sel granulosit (terdiri dari netrofil, eusinofil, dan basofil dan sel agranulosit) dan sel granulosit (terdiri dari limfosit, trombosit, dan monosit) (Purwanto, 2006).

Limfosit memiliki peranan dalam respon imunitas dan monosit merupakan sel makrofag yang berperan penting dalam memfagosit mikroorganisme patogen. Sedangkan trombosit sangat berperan dalam proses pembekuan darah dan berfungsi untuk mencegah kehilangan cairan tubuh pada kerusakan-kerusakan di permukaan (Nabib dan Pasaribu, 1989 dalam Mulyani, 2006). Berbeda dengan ketiga sel di atas, netrofil sangat aktif dalam membunuh bakteri dan jumlahnya besar dalam nanah (Carboni, 1997 dalam Mulyani, 2006). Sel-sel tersebut bersirkulasi dalam darah dan cairan limfa.