Suhu merupakan salah satu controlling factor yang mempengaruhi laju perkembangan terutama pada fase larva selama periode endogeneous feeding (Kamler, 1989). Hal ini ditegaskan oleh Ivleva’s dalam Kamler (1989) bahwa suhu berpengaruh terhadap laju metabolisme hewan air yang bersifat poikilotermis yaitu biokimia jaringan tubuh ikan berubah sesuai dengan suhu lingkungan (Wiegand; Greene dan Selivonchnick dalam Wiegand et al., 1988). Kecepatan reaksi laju metabolisme dipengaruhi oleh suhu dimana pertumbuhan hewan-hewan poikilotermis lebih cepat dengan meningkatnya suhu dalam batas toleransinya (Webb, 1978). Hubungan antara suhu dengan pertumbuhan ikan menurut Brown (1957) yaitu adanya pertumbuhan yang kecil atau tidak ada sama sekali di bawah suhu tertentu (20oC). Selanjutnya pertumbuhan meningkat seiring dengan meningkatnya suhu sampai mencapai titik maksimum (30oC), dan menurun kembali atau bahkan menjadi negatif (letal) pada suhu di atas titik maksimum (33 oC). Huet (1971) menjelaskan bahwa untuk setiap spesies, suhu optimum pertumbuhan tidak sama. Kemudian dijelaskan bahwa suhu dapat mempengaruhi aktivitas ikan seperti pernafasan, pertumbuhan dan reproduksi. Peningkatan suhu sepanjang toleransi ikan akan meningkatkan metabolisme dan kebutuhan oksigen (Blaxter, 1988). Menurut Fry dalam Wetherley (1972), laju metabolisme tertinggi trdapat pada kisaran suhu 35 – 40oC. Pada setiap suhu aklimasi, yaitu suhu yang menunjukkan toleransi terhadap panas atau dingin, dari tiap jenis ikan memiliki selang limit yang menyatakan titik letal akibat suhu tinggi dan titik letal akibat suhu rendah. Di antara kedua titik tersebut dinamakan titik toleransi sedangkan suhu di atas titik letal akibat panas dan di bawah titik letal akibat dingin ditemukan kondisi resisten (Fry, Hart dan Clawson dalam Jones, 1964). Huet (1971) menyatakan bahwa Cyprinid membutuhkan suhu 18 – 30 oC untuk pertumbuhan optimum dan suhu 20 – 28 oC untuk pemeliharaan. Sedangkan Hora dan Pillay (1962) dalam Wardani (1996) menjelaskan bahwa suhu untuk budidaya adalah 24 – 28 oC. Menurut Rachmatun (1987) suhu optimum untuk pertumbuhan ikan mas di Indonesia berkisar antara 25 – 28 oC. Effendi, H. 2000. Telaah Kualitas Air Bagi Pengelolaan Sumberdaya dan Lingkungan Perairan. Fakultas Perikanan. IPB. Bogor. 259 hal.

info ttg red danionya lebih banyak dong….
kalo bisa ama klasifikasi,morfologi,kebiasaan hidup,reproduksinya…
ditunggu yah….!!!!!!!!!
hubungi saya lewat telefon aja pak kalau mau ngobrol. lebih enak ngobrolnya. saya lagi ga sempet update nich blog