Hormon steroid

1 02 2009

Hormon steroid berasal dari kolesterol dan berstruktur inti perhidrosiklopentanolfenantren yang terbagi atas tiga cincin sikloheksana. Senyawa steroid terdapat pada hewan, tanaman tingkat tinggi bahkan terdapat pula pada beberapa tanaman tingkat rendah seperti jamur (fungi). Steroid banyak terdapat di alam tetapi dalam jumlah yang terbatas dan mempunyai aktivitas biologis, yang mempunyai karakteristik tertentu yaitu seperti 1) substitusi oksigen pada atom C-3 yang merupakan sifat khas steroid alam 2) subsitusi gugus metil angular pada atom C-10 dan C-13 yang dikenal dengan atom C-18 dan C-19, kecuali pada senyawa steroid dengan cincin A berbentuk benzenoid, seperti pada kelompok esterogen. Mendengar kata steroid, anabolic steroid, obat perangsang meningkatnya metabolisme hormonal tubuh manusia sehingga menjadi lebih kuat. Steroid ini di dalam dunia olahraga sering menimbulkan kontroversi, mengingat prestasi seseorang dapat meningkat dengan mengkonsumsinya, sementara di pihak lain, konsumsi steroid dapat menimbulkan efek samping bagi kesehatan manusia. Baik yang terdapat di tumbuhan maupun di hewan, merupakan hormon yang larut dalam lemak, dan mempunyai struktur basa tetrasiklo. Struktur basa memiliki empat cincin yang saling terpaut dan terdiri dari tiga cincin sikloheksan dan dan siklopentan tersintesis dari asetil CoA melalui jalur asam mevalonik di dalam metabolisme sel tumbuhan. Perbedaan pre-kursor di jalur asam mevalonik, dalam biosintesis steroid pada tumbuhan dan hewan menghasilkan produk steroid yang berbeda, pada tumbuhan menghasilkan brassinolide dan pada hewan menghasilkan kolesterol, dan yang lain lagi pada cendawan menghasilkan ergosterol.

Hormon Steroid

Hormon Steroid

Secara rinci beberapa fungsi steroid adalah sebagai berikut :

* meningkatkan laju perpanjangan sel tumbuhan
* menghambat penuaan daun (senescence)
* mengakibatkan lengkuk pada daun rumput-rumputan
* menghambat proses gugurnya daun
* menghambat pertumbuhan akar tumbuhan
* meningkatkan resistensi pucuk tumbuhan kepada stress lingkungan
* menstimulasi perpanjangan sel di pucuk tumbuhan
* merangsang pertumbuhan pucuk tumbuhan
* merangsang diferensiasi xylem tumbuhan
* menghambat pertumbuhan pucuk pada saat kahat udara dan endogenus karbohidrat.

DAFTAR PUSTAKA

Hanani, E, Mun’im A, Sekarini, R. Identifikasi Senyawa Antioksidan Dalam Spons Callyspongia Sp. Dari Kepulauan Seribu. Majalah Ilmu Kefarmasian, Vol. II, No.3, Desember 2005, 127 – 133. Departemen Farmasi, FMIPA-UI, Kampus UI Depok 16424.





Menghasilkan benih yang baik dengan inbreeding

1 02 2009

Inbreeding yang selama ini selalu disalahkan atas menurunnya kualitas benih ikan, padahal taukah anda bahwa sebenarnya inbreeding bisa juga digunakan untuk menghasilkan benih unggul. Caranya adalah dengan menghasilkan organisme homozygot yang memiliki gen – gen unggul.





INBREEDING

1 02 2009

Di dalam akuakultur inbreeding di dikenal dengan istilah perkawinan individu yang memiliki kekerabatan dekat. Dalam genetika, Inbreeding bertujuan untuk mendapatkan hewan yang homozygot (yang unggul dalam salah satu sifat, misalnya mempunyai kemampuan yang tinggi dalam kenaikan berat badan dan sifat ini menurun). Dalam Inbreeding frekuensi gen, seleksi, genetif drift tidak mengalami perubahan. Sehingga untuk menghasilkan benih yang baik dan unggul dilakukan seleksi atau perkawinan silang.
Inbreeding memiliki dampak positif dan negative dalam akuakultur. Dampak positif dari inbreeding adalah diperoleh benih yang unggul, ketahanan terhadap penyakit, dan efisiensi pakan yang baik. sedangkan dampak negatif dari inbreeding yaitu jika terjadi secara tidak terkendali dan tanpa dilandasi pengetahuan yang baik adalah munculnya sifat – sifat merugikan yang sebelumnya tertutup sifat dominan (resesif).permasalahan dari inbreeding yang langsung dirasakan adalah menurunnya kualitas benih.





Pemeriksaan Gonad Metode Asetokarmin

1 02 2009

Identifikasi jenis kelamin ikan perlu dilakukan dalam kegiatam budidaya ikan. Dalam kegiatan budidaya, pembedaan jenis kelamin sangat penting karena terkait langsung dengan proses-proses selanjutnya. Oleh karena itu, dalam praktikum ini hal yang dilakukan adalah pemeriksaan gonad untuk mengetahui jenis kelamin ikan tersebut. Secara garis besar perkembangan gonad dibagi atas dua tahap, yaitu tahap pertumbuhan gonad hingga mencapai dewasa kelamin dan tahap pematangan produk seksual. Tahap pertama dimulai sejak ikan menetas hingga mencapai dewasa. Tahap kedua dilanjutkan dengan tahap pematangan seksual dan terus berlangsung selama fungsi reproduksi berjalan dengan baik.
Pada tahap perkembangan gonad sebagian besar hasil metabolisme tertuju kepada gonad sehingga gonad akan mengalami perubahan histologik, morfologik, berat dan volume yang dapat dijadikan sebagai acuan dalam menentukan tingkat kematangan gonad. Tingkat kematangan gonad adalah tahap tertentu perkembangan gonad sebelum dan sesudah ikan memijah. Karena penentuan jenis kelamin sangat menentukan proses-proses selanjutnya, maka pemerikasaan gonad perlu dilakukan dalam praktikum dasar-dasar genetika. Salah satu tekhnik dalam pemerikasaan gonad yaitu dengan pewarnaan gonad dengan menggunakan larutan asetokarmin. Asetokarmin adalah larutan pewarna yang digunakan untuk mewarnai jaringan gonad untuk pemeriksaan dengan mikroskop.
Alat-alat yang digunakan adalah Pipet tetes, Mikroskop, Alat bedah, Gelas objek dan Gelas penutup.
Sedangkan bahan-bahan yang digunakan adalah Ikan Mas (Cyprinus carpio), Ikan Nila (Oreochromis niloticus) dan Ikan Lele (Clarias batracus) sebagai ikan uji, Asam asetat 45%, Larutan karmin (Carmine) dan akuades.
Pada awalnya, ikan Mas diambil dari ember yang berisi air kemudian ikan dibunuh dengan cara ditusuk pada bagian medula oblongatanya. Kemudian ikan dibedah dari pangkal anus bagian depan operkulum untuk diambil gonadnya. Setelah itu, gonad dicacah diatas gelas objek untuk diberikan larutan karmin. Caranya yaitu 0.6 bubuk karmin dilarutkan dalam 100 ml asam asetat 45 % (45 ml asam asetat + 55 ml akuades). Larutan tersebut didihkan selama 2-4 menit, kemudian didinginkan dan disaring dengan menggunakan kertas saring untuk memisahkan pertikel kasarnya. Pewarnaan dilakukan dengan cara memberikan beberapa tetes larutan asetokarmin pada gonad ikan yang telah dicacah dan diletakkan diatas gelas objek. Setelah didiamkan beberapa menit, ditutup dengan gelas penutup dan diamati dibawah mikroskop.





Preparasi Kromosom Teknik Jaringan Padat

1 02 2009

Jumlah kromosom dari setiap spesies itu berbeda-beda. Oleh karena itu dalam budidaya penting untuk mengetahui jumlah kromosom, kaitannya dalam rekayasa genetika. Kromosom adalah badan mikroskopis dalam inti sel yang merupakan struktur sel paling penting yang bertugas untuk menurunkan sifat kepada keturunan (Kirpichnikov, 1981 dalam Sayekti, 1993). Kromosom merupakan struktur halus yang mengandung untaian kromatin yang sangat padat selama pembentukan sel. Kromosom merupakan struktur yang mengandung cetak biru atau kode biologi untuk menghasilkan fenotip (Tave, 1986 dalam Sayekti, 1993). Penghitungan kromosom dapat dilakukan melalui kultur jaringan atau melalui teknik jaringan padat/preparat agar dapat menghasilkan hasil yang akurat (Carman, 1992 dalam Setiadi, 1995). Kromosom tampak jelas pada saat pembelahan sel yaitu pada saat metafase. Pengamatan kromosom berguna untuk menentukan bentuk dan jumlah kromosom serta penentuan ploidi
Lankah yang dilakukan pertama – tama ikan direndam dalam larutan Kolkisin 0.07% (w/v) selama 6-9 jam untuk memutus benang Spindel dan menghentikan pembelakah sel pada tahap metafase. Selama perendaman dalam wadah, ikan diberi aerasi yang baik setelah itu ikan dibunuh. Kemudian sirip ekor dan insang ikan dipotong. Potongan jaringan tersebut direndam dalam larutan hipotonik (KCl 0.075 M) selama 60 menit pada suhu ruang dengan tujuan menggelembungkan ukuran sel sehingga kromosom memiliki ruang yang lebih luas untuk diamati. Larutan hipotonik diganti setiap 30 menit selama waktu perendaman dengan volume 20 kali volume jaringan. Lalu jaringan difiksasi dengan larutan Carnoy selama 60 menit untuk menjaga keutuhan kromosom. Larutan Carnoy diganti setiap 30 menit. Kemudian dilanjutkan dengan pembuatan preparat (bila diperlukan jaringan yang telah difiksasi dapat disimpan dalam refrigrator selama 2 – 3 minggu).
Pada tahap pembuatan preparat, jaringan yang telah difiksasi diambil dengan menggunakan pinset dan disentuhkan pada tissue untuk menghilangkan larutan fiksasi. Kemudian jaringan tersebut diletakkan di atas gelas objek cekung dan ditambahkan 3 – 4 tetes Asam Asetat 50%. Setelah itu jaringan digerak-gerakkan dengan menggunakan pisau bedah secara hati-hati hingga terbentuk suspensi sel (larutan menjadi keruh). Gelas objek yang akan digunakan sebagai preparat sebelumnya direndam di dalam alkohol 70% minimal selama 2 jam. Suspensi sel yang terbentuk diambil dengan menggunakan pipet tetes lalu diteteskan di atas gelas objek yang ditempatkan diatas hot plate dengan suhu 45-500C, dan dihisap kembali dengan cepat setelah terbentuk lingkaran (ring). Pada setiap gelas objek idealnya dapat dibuat menjadi 3 lingkaran.
Selanjutnya pada tahap pewarnaan preparat, preparat yang telah berisi lingkaran diwarnai dengan larutan giemsa 20% dengan cara memberikan larutan sebanyak 3 – 5 tetes lalu disebarkan hingga menutupi ring dengan menggunakan tusuk gigi. Pewarnaan dilakukan selama 20 – 30 menit pada suhu kamar. Preparat dibilas dengan menggunakan akuades selama 20 – 30 menit pada suhu kamar. Setelah kering, preparat diamati di bawah mikroskop





Preparasi Nukleous

1 02 2009

Nukleous atau yang disebut juga anak inti merupakan organel yang memiliki peran dalam mengatur pembelahan sel dan sintesa ribosom. Penentuan tingkat ploidi dilakukan dengan perhitungan tidak langsung yaitu perhitungan nukleolus.
Tingkat plodi dari suatu spesies penting untuk diketahui terkait dengan rekayasa genetik yang akan dilakukan. Tingkat ploidi ikan dapat dihitung dengan metode penghitungan jumlah nukleolus dengan pewarnaan perak nitrat.
Jaringan sirip dan insang dari ikan uji yang masih hidup dipotong kemudian difiksasi dalam larutancarnoy selama 60 menit dengan penggantian larutan carnoy setiap 30 menit. Selanjutnya proses dapat dilanjutkan atau dapat dihentikan dengan menimpan jaringan yang telah direndam dalam larutan carnoy tersebut dalam refrigerator dengan suhu 40C. Jaringan tersebut dapat digunakan sampai 2-3 minggu. Jaringan diambil dan dikeringkan dengan menyentuhkan kertas tissue agar larutan fiksatif hilang. Jaringan ditempatkan dalam gelas obyek cekung dan ditambahkan dengan 3-4 tetes asam asetat 50%. Jaringan digerak-gerakkan secara hati-hati dengan menggunakan pisau bedah hingga terbentuk suspensi sel. Suspensi sel tersebut dihisap dengan pipet tetes lalu teteskan diatas gelas preparat yang telah direndam dalam alkohol absolut dan ditempatkan di atas hot plate dengan suhu 45-500C kemudian hisap kembali dengan cepat hingga terbentuk 3 buah ring. Selanjutnya preparat diwarnai dengan menggunakan perak nitrat dengan cara diteteskan di atas preparat lalu dicampur dan disebarkan ke seluruh permukaan gelas preparat dengan menggunakan tusuk gigi. Preparat ditempatkan dalam box staining dengan suhu 40-45oC dibiarkan selama 20 menit atau sampai warnanya berubah menjadi kuning kecoklatan. Preparat diangkat dan dibilas dengan akuades dan dibiarkan kering udara. Kemudian Preparat diamati di bawah mikroskop.





Triploidisasi Pada Ikan Mas (Cyprinus carpio)

1 02 2009

Rekayasa genetik merupakan salah satu aplikasi dalam peningkatan produksi perikananan terutama dalam usaha budidaya. Dalam perkembangannya rekayasa genetikdapat dilaukan dengan poliploidisasi. Poliploidisasi adalah usaha, proses atau kejadian yang menyebabkan individu berkromosom lebih dari satu set (Rieger et al., 1976). Salah satu jenis poliploidisasi adalah triploidisasi yang bertujuan untuk mendapatkan individu 3n yang steril.
Triploidisasi dalam usaha budidaya dilakukan karena dua alasan yaitu pertumbuhannya lebih cepat dibandingkan dengan ikan diploid dan kerena ikan triploid ini umumnya steril. Kesterilan ini dapat mencegah gametogenesis dan menghemat pemakaian energi dan materi (Huisman, 1976). Ikan triploid bersifat steril karena kromosom homolognya tidak dapat bersinapsis untuk gametogenesis.
Akibat kondisi steril ini makanan yang seharusnya digunakan untuk perkembangan gonad dan reproduksi akan digunakan untuk pertumbuhan badan dan akibatnya berpengaruh besar kepada laju konversi makanan dan kecepatan tumbuh. Karena itu budidayanya lebih menguntungkan dibandingkan dengan budidaya ikan diploid (Thorgaard dan Gall, 1979).





Fluktuasi Asimetri

29 11 2008

Menurut Van Valen (1962) bahwa adanya perbedaan fenotip pada individu untuk sifat meristik yang bilateral dapat menunjukan fluktuasi asimetri, yaitu adanya perbedaan antara karakter sisi kiri dan sisi kanan yang menyebar secara normal dengan rataan mendekati nol sebagai akibat dari ketidakmampuan individu untuk berkembang secara tepat dan normal serta fluktuasi asimetri merupakan indikator untuk mengetahui adanya silang dalam (inbreeding). Dengan mengetahui adanya fluktuasi asimetri maka akan mudah untuk menentukan apakah ikan dalam suatu generasi mengalami pertumbuhan yang normal atau tidak. Sebenarnya jika nilai fluktuasi asimertri tidak terlalu besar maka masih bisa disebut normal.

Pertama Ikan Nila ditusuk pada medula oblongata dengan kemiringan 45o agar seluruh sistem sarafnya lumpuh kemudian mati. Kemudian jumlah sisik kanan dan kiri dihitung pada garis LL, jari-jari lemah sirip perut dengan direntangkan terlebih dahulu siripnya. Kemudian sirip dada juga dihitung dengan merentangkan kedua sirip tersebut sehingga jari-jarinya terlihat jelas dan mudah dihitung. Terakhir tapis insang dihitung dengan menggunting dahulu bagian operculum hingga terlepas dan dengan menggunakan lup agar tapis insang mudah dihitung.