Oksigen (O2) Terlarut

6 05 2009

Oksigen terlarut adalah jumlah oksigen dalam miligram yang terdapat dalam satu liter air (ppt). Oksigen terlarut umumnya berasal dari difusi udara melalui permukaan air, aliran air masuk, air hujan, dan hasil dari proses fotosintesis plankton atau tumbuhan air. Oksigen terlarut merupakan parameter penting karena dapat digunakan untuk mengetahui gerakan masssa air serta merupakan indikator yang peka bagi proses-proses kimia dan biologi (Grasshoff, 1975 dalam Rohilan, 1992).

Kadar oksigen yang terlarut bervariasi tergantung pada suhu, salinitas, turbulensi air, dan tekanan atmosfer (Jeffries dan Millis, 1996 dalam Effendi, 2003). Kadar oksigen terlarut juga berfluktuasi secara harian (diurnal) dan musiman, tergantung pada pencampuran (mixing) dan pergerakan (turbulence) massa air, aktivitas fotosintesis, respirasi, dam limbah (effluent) yang masuk ke badan air. Selain itu, kelarutan oksigen dan gas-gas lain berkurang dengan meningkatnya salinitas sehingga kadar oksigen di laut cenderung lebih rendah daripada kadar oksigen di perairan tawar. Peningkatan suhu sebesar 1oC akan meningkatkan konsumsi oksigen sekitar 10% (Brown, 1987 dalam Effendi, 2003).

Menurut Boyd (1990), jumlah oksigen yang dibutuhkan oleh organisme akuatik tergantung spesies, ukuran, jumlah pakan yang dimakan, aktivitas, suhu, dan lain-lain. Konsentrasi oksigen yang rendah dapat menimbulkan anorexia, stress, dan kematian pada ikan. Menurut Swingle dalam Boyd (1982), bila dalam suatu kolam kandungan oksigen terlarut sama dengan atau lebih besar dari 5 mg/l, maka proses reproduksi dan pertumbuhan ikan akan berjalan dengan baik. Pada perairan yang mengandung deterjen, suplai oksigen dari udara akan sangat lambat sehingga oksigen dalam air sangat sedikit (Ganeson, 1955 dalam Hyness, 1974).





Alkalinitas

1 02 2009

Alkalinitas adalah suatu parameter kimia perairan yang menunjukan jumlah ion carbonat dan bicarbonat yang mengikat logam golongan alkali tanah pada perairan tawar. Nilai ini menggambarkan kapasitas air untuk menetralkan asam, atau biasa juga diartikan sebagai kapasitas penyangga (buffer capacity) terhadap perubahan pH. Perairan.mengandung alkalinitas ≥20 ppm menunjukkan bahwa perairan tersebut relatif stabil terhadap perubahan asam/basa sehingga kapasitas buffer atau basa lebih stabil. Selain bergantung pada pH, alkalinitas juga dipengaruhi oleh komposisi mineral, suhu, dan kekuatan ion. Nilai alkalinitas alami tidak pernah melebihi 500 mg/liter CaCO3. Perairan dengan nilai alkalinitas yang terlalu tinggi tidak terlalu disukai oleh organisme akuatik karena biasanya diikuti dengan nilai kesadahan yang tinggi atau kadar garam natrium yang tinggi (Effendi, 2003).
Tabel 2. Kualitas air berdasarkan alkalinitas (Swingle, 1968)
Alkalinitas (mg/l) Kondisi perairan
0 – 10¬ Tidak dapat dimanfaatkan
10 – 50 Alkalinitas rendah, kematian mungkin terjadi, CO2 rendah, pH bervariasi, dan perairan kurang produktif
50 – 200 Alkalinitas sedang, pH bervariasi, CO2 sedang, produktivitas sedang
>500 pH stabil, produktivitas rendah, ikan terancam





Cara Menyusun Filter

1 02 2009

Guys, gw mau ngomong soal filter. Lo tau ga sich apa itu filter? Dalam dunia akuakultur filter itu adalah alat yang digunakan untuk menyaring air dengan tujuan memperbaiki kualitasnya agar bisa dipakai lai (Perwira : 2008). Nah sistem filter sendiri merupakan kumpulan dari berbagai part (bagian) yang memiliki fungsi spesifik. Inti sarinya lo apalin aja dah pembagian filter yang gw kasih ini dan kegunaannya ya!
Bagian Bagian Sistem Filtrasi :
1. Filter Fisik
Filter fisik ini cara kerjanya sama seperti saringan teh yang sering lo pakai di dapur. Cara kerja bagian ini adalah mencegah molekul makro lewat. Dalam akuarium molekul makro itu biasanya tampak mata kok!!!! Contoh molekul makro itu adalah Sisa pakan, Sisa feces ikan dll. Nah karena lo dah ngerti inti sari filter ini so lo harusnya bs kreatif nentuin bahan filter ini, lo bisa aja beli kasa akuarium di toko ikan tapi lo juga bisa aja secara kreatif memasukan cangcut yang dah sobek sebagai filter fisik. He3x… Be Kreatif Guys!!!
2. Filter Kimia
Nah setelah di filter fisik kan masih ada partikel – partikel yang super kecil tetep kebawa air tuch maka selanjutnya ini saat filter kimia mengambil alih. Bahan yang digunakan dalam filter kimia ini adalah zeolit atau arang aktif. Fungsi dari kedua bahan itu adalah mengikat zat mikro dan racun yang masih terlarut contohnya nitrit, nitrat maupun amoniak. Buat detail cara ngikatnya ga mau gw jelasin disini ah! Oh ya lo bisa dapetin zeolit di toko bahan pertanian atau toko perikanan. Ada berbagai ukuran zeolit yang dijual mulai dari sekuran tepung ampe yang seukuran batu kali jadi bijaklah dalam memilih ya!!! Trus kalao areng aktif bisa juga lo ganti sama arang skam atau areng yang laen, gw sendiri sich lebih suka pake areng batok kelapa. He3x… yang terakhir perlu lo inget filter kimia ada kadaluarsanya loh!!!
3. Filter Biologis
Oke setelah air di filter 2 kali selanjutnya tugas bakteri buat mengurai amoniak. Inti dari filter biologis adalah menyediakan substrat yang lebih luas untuk tempat tumbuhnya bakteri. Nah lo bisa dapetin filter ini di toko berupa bioball atau keramik tapi lo juga bisa kreatif contohnya pakai potongan potongan botol akua bekas!!! Kreatif dikit dech!!!
4. Disinfektan (Optional)
Nah kalo lo perhati’in nich filter gw kasih tanda “(optional)” ini karena filter ini emang jarang digunaain kalo lo bikin akuarium display. Filter ini banyak digunakan dalam sterilisasi air. Lo bakal pakai filter ini kalau lo bikin usaha pembenihan udang atau akuarium segede seaworld. Kerja dari filter ini adalah setelah air di filter dengan ketiga filter diatas maka seluruh bakteri yang ada di air dimatikan. Nah cara mematikan bakteri ini bisa berbagai cara mulai dari diberi zat kimia, dipanaskan atau di radiasi. Cara yang paling umum digunakan adalah menggunakan radiasi sinar UV.
Nah udah segitu aja dech yang perlu gw omongin ama elo soal filter. Kalo lo Minat ama akuakultur yang kayak gini harus lo ngerti’in bener bener di luar kepala!!!!
Regard,
Perwira





Suhu / Temperatur Air

1 02 2009

Suhu merupakan salah satu controlling factor yang mempengaruhi laju perkembangan terutama pada fase larva selama periode endogeneous feeding (Kamler, 1989). Hal ini ditegaskan oleh Ivleva’s dalam Kamler (1989) bahwa suhu berpengaruh terhadap laju metabolisme hewan air yang bersifat poikilotermis yaitu biokimia jaringan tubuh ikan berubah sesuai dengan suhu lingkungan (Wiegand; Greene dan Selivonchnick dalam Wiegand et al., 1988). Kecepatan reaksi laju metabolisme dipengaruhi oleh suhu dimana pertumbuhan hewan-hewan poikilotermis lebih cepat dengan meningkatnya suhu dalam batas toleransinya (Webb, 1978). Hubungan antara suhu dengan pertumbuhan ikan menurut Brown (1957) yaitu adanya pertumbuhan yang kecil atau tidak ada sama sekali di bawah suhu tertentu (20oC). Selanjutnya pertumbuhan meningkat seiring dengan meningkatnya suhu sampai mencapai titik maksimum (30oC), dan menurun kembali atau bahkan menjadi negatif (letal) pada suhu di atas titik maksimum (33 oC). Huet (1971) menjelaskan bahwa untuk setiap spesies, suhu optimum pertumbuhan tidak sama. Kemudian dijelaskan bahwa suhu dapat mempengaruhi aktivitas ikan seperti pernafasan, pertumbuhan dan reproduksi. Peningkatan suhu sepanjang toleransi ikan akan meningkatkan metabolisme dan kebutuhan oksigen (Blaxter, 1988). Menurut Fry dalam Wetherley (1972), laju metabolisme tertinggi trdapat pada kisaran suhu 35 – 40oC. Pada setiap suhu aklimasi, yaitu suhu yang menunjukkan toleransi terhadap panas atau dingin, dari tiap jenis ikan memiliki selang limit yang menyatakan titik letal akibat suhu tinggi dan titik letal akibat suhu rendah. Di antara kedua titik tersebut dinamakan titik toleransi sedangkan suhu di atas titik letal akibat panas dan di bawah titik letal akibat dingin ditemukan kondisi resisten (Fry, Hart dan Clawson dalam Jones, 1964). Huet (1971) menyatakan bahwa Cyprinid membutuhkan suhu 18 – 30 oC untuk pertumbuhan optimum dan suhu 20 – 28 oC untuk pemeliharaan. Sedangkan Hora dan Pillay (1962) dalam Wardani (1996) menjelaskan bahwa suhu untuk budidaya adalah 24 – 28 oC. Menurut Rachmatun (1987) suhu optimum untuk pertumbuhan ikan mas di Indonesia berkisar antara 25 – 28 oC. Effendi, H. 2000. Telaah Kualitas Air Bagi Pengelolaan Sumberdaya dan Lingkungan Perairan. Fakultas Perikanan. IPB. Bogor. 259 hal.