Endo Parasit Pada Ikan Air Tawar

1 02 2009

Yach sekarang waktunya ngomong yang berat berat dan sebenernya tentang sesuatu yang gue sendiri ga suka tetapi penyakit itu kan merupakan faktor yang sangat penting dalam budi daya!!!
Tanpa kendali yang baik pada penyakit siap siap aja lo merugi kalau mau budi daya ikan!!!
Endoparasit (parasit yang berada dalam tubuh ikan) yang mungkin menginfeksi ikan air tawar adalah dari golongan Metazoa. Dari golongan Metazoa yang mungkin menginfeksi ikan air tawar adalah filum Plathyhelminthes, Nemathelminthes dan Acanthocephala (Kabata, 1985).
Filum Plathyhelminthes
Dari filum Plathyhelminthes yang mungkin menyerang ikan air tawar, termasuk juga ikan konsumsi adalah Digenea (Kabata,1985).
a. Digenea
Digenea adalah trematoda endoparasit yang memiliki siklus hidup kompleks yang melibatkan satu atau lebih inang antara. Digenea umumnya berbentuk pipih seperti daun dengan struktur mirip turbelaria free living. Tubuh lunak dan terdiri 2 sucker, faring, kaekum intestinalis, sistem reproduksi. Bentuk dasar tubuh digenea dewasa bermacam-macam.
Digenea yang telah diketahui mendekati 400 genera dan sedikitnya 4000 spesies yang menyerang ikan. Parasit ini memperlihatkan inang spesifisitas yang tinggi terutama pada inang antara yang pertama dan pada inang akhir. Organ yang diserang pada inang akhir adalah organ internal seperti saluran gastrointernal dan organ yang berdekatan seperti hati dan empedu, paru-paru, gelembung renang serta saluran darah.

2.2.2 Filum Nemathelminthes
Dari filum Nemathelminthes yang mungkin menyerang ikan air tawar, termasuk juga ikan-ikan konsumsi adalah Nematoda (Kabata,1985). Nematoda sering juga disebut cacing “gilig”, biasanya kecil bila dibandingkan dengan cacing pipih, sehingga banyak diantara nematode adalah cacing yang mikroskopis (Nable dan Nable, 1989). Menurut Kabata (1985), nematode ini mempunyai tubunh panjang dan silindris dan dilindungi oleh lapisan kutikula yang kuat dibawahnya terdapat lapisan hypodermis. Sedangkan Noble dan Noble (1989) mengatakan bahwa cacing ini sangat aktif, ramping, biasanya kedua ujungnya runcing dan mempunyai mulut dan anus, jadi cacing ini mempunyai saluran pencernaan yang lengkap.

Ciri taksonomi terpenting dari Nematoda adalah terletak di bagian kepalanya, dimana mempunyai bentuk yang lonjong dan di dalamnya terletak ganglion kepala (Kabata, 1985). Saluran pencernaan Nematoda berupa tabung sederhana terdiri dari sel-sel yang tersusun dalam lapisan tunggal. Mulut menuju kapsula bukali, kemuduan ke esophagus yang berotot yang selanjutnya ke usus. Anus terdapat hamper di ujung posterior cacing dan sebuah pelebaran yang dinamakan rectum terletak tepat di ujung anterior usus. Makanan nematode terdiri dari jaringan-jaringan hospes darah atau pemotongan jaringan dari usus hospes dan akhirnya dicerna (Noble dan Noble, 1989).

Dalam perkembangan hidupnya, nematode menggunakan ikan sebagai inang definitive maupun sebagai inang antara dari siklus hidup Nematoda. Dari empat tingkatan larva, keempat merupakan stadia infektif teerhadap inang definitif (Kabata, 1985).

Filum Acanthocephala
Pada ikan air tawar, parasit metazoan yang mungkin menyerang adalah dari Acanthocephala, dimana filum ini semuanya merupakan parasit. Bentuk tubuh luar yang dapat dikenali dari Acanthocepala adalah adanya proboscis, leher dan trunk (Kabata, 1985). Sedangkan menurut Noble dan Noble (1989), filum Acanthocephala ini disebut cacing kepala berduri karena adanya kait-kait mirip duri pada probosisnya (acanth berarti duri dan cephala berarti kepala). Acanthocephala merupakan caing yang berbentuk silinder, agak pipih dan mempunyai proboscis yang dapat dimasukkan dan dikeluarkan dari tubuhnya yang berada di ujung anterior tubuh (Kabata,1985).

Untuk mengidentifikasi spesies dari Acanthocephala adalah jumlah dan susunan kait pada probosis. Probosis berbentuk bulat atau silindris, dilengkapi baris-baris kait atau spina yang membengkak yang berguna untuk melekatkan tubuh cacing tersebut pada usus inangnya (Noble dan Noble, 1989).





Prevalensi dan Intensitas Parasit (Tingkat Penularan)

17 09 2008

Tingkat penularan penyakit pada umumnya dinyatakan dengan prevalensi kejadian dan intensitas parasit. Prevalensi adalah persentase ikan yang terinfeksi dibandingkan dengan seluruh ikan contoh yang diperiksa. Sedangkan Intensitas merupakan jumlah rata-rata parasit per ikan yang terifeksi. Prevalensi dan Intensitas tiap jenis parasit tidak selalu sama karena banyaknya faktor yang berpengaruh, salah satu faktor yang berpengaruh adalah ukuran inang (Dogiel et al., 1970 dalam Awilia, 2002).

Kemudian Noble dan Noble (1989) dalam Martiadi (2002) menyatakan bahwa pada beberapa spesies ikan, semakin besar ukuran/berat inang, semakin tinggi infeksi oleh parasit tertentu. Inang yang lebih tua dapat mengandung jumlah parasit yang lebih besar, meskipun apabila telah terjadi saling adaptasi maka inang menjadi toleran terhadap parasitnya. (Noble and Noble, 1989).





Hubungan antara parasit dengan inang

17 09 2008

Parasit adalah organisme yang hidupnya dapat menyesuaikan diri dengan inangnya, sangat tergantung pada inangnya sebagai habitat dan pemberi makannya dan merugikan organisme yang ditempelinya (inang) (Noble and Noble, 1989). Menurut Kabata (1985) parasit dapat dibagi menjadi 2 kelompok yang berbeda yaitu ektoparasit dan endoparasit, menurut letak organ yang terinfeksi oleh parasit. Ektoparasit adalah parasit yang melekat pada bagian permukaaan tubuh, sedangkan endoparasit adalah parasit yang hidup di dalam tubuh inang, seperti saluran pencernaan, hati dan organ lain (Olsen, 1970).

Menurut Fernando et al. (1972), setiap jenis parasit mempunyai habitat yang berbeda pada organ inang sebagai tempat hidupnya, parasit yang menginfeksi pada bagian luar tubuh adalah Protozoa, Monogenea, Copepoda. Sedangkan parasit yang menyerang bagian dalam tubuh ikan adalah Protozoa, Digenea, Acanthocephala, nematode dan Crustacea.

Akibat dari infeksi parasit ini akan memberikan perubahan-perubahan baik pada jaringan organ tubuh maupun perubahan sifat-sifat inang secara umum (Dogiel, 1970 dalam Nourina, 2002). Sachlan (1981) dalam Martiadi (2002) menyebutkan bahwa parasit dapat merugikan inangnya dengan banyak cara, yaitu dengan menimbulkan luka-luka, dengan memakan dan menyerap jaringan tubuh inang.

Dikatakan juga oleh Axelrod et al. (1974) dalam Nourina (2002) bahwa penyakit ikan timbul dari interaksi antara jasad penyebab penyakit ikan dengan lingkungannya. Hubungan antara inang dengan parasit merupakan hal yang kompleks karena banyaknya faktor yang berpengaruh. Penyebaran setiap parasit pathogen terhadap inangnya antara lain ditentukan oleh umur dan ukuran inang, daya tahan inang, musim dan lokasi geografisnya (Noble and Noble, 1989).





Endoparasit Pada Ikan Air Tawar

17 09 2008

Yach sekarang waktunya ngomong yang berat berat dan sebenernya tentang sesuatu yang gue sendiri ga suka tetapi penyakit itu kan merupakan faktor yang sangat penting dalam budi daya!!!

Tanpa kendali yang baik pada penyakit siap siap aja lo merugi kalau mau budi daya ikan!!!

Endoparasit (parasit yang berada dalam tubuh ikan) yang mungkin menginfeksi ikan air tawar adalah dari golongan Metazoa. Dari golongan Metazoa yang mungkin menginfeksi ikan air tawar adalah filum Plathyhelminthes, Nemathelminthes dan Acanthocephala (Kabata, 1985).

Filum Plathyhelminthes

Dari filum Plathyhelminthes yang mungkin menyerang ikan air tawar, termasuk juga ikan konsumsi adalah Digenea (Kabata,1985).

Digenea

Digenea adalah trematoda endoparasit yang memiliki siklus hidup kompleks yang melibatkan satu atau lebih inang antara. Digenea umumnya berbentuk pipih seperti daun dengan struktur mirip turbelaria free living. Tubuh lunak dan terdiri 2 sucker, faring, kaekum intestinalis, sistem reproduksi. Bentuk dasar tubuh digenea dewasa bermacam-macam.

Digenea yang telah diketahui mendekati 400 genera dan sedikitnya 4000 spesies yang menyerang ikan. Parasit ini memperlihatkan inang spesifisitas yang tinggi terutama pada inang antara yang pertama dan pada inang akhir. Organ yang diserang pada inang akhir adalah organ internal seperti saluran gastrointernal dan organ yang berdekatan seperti hati dan empedu, paru-paru, gelembung renang serta saluran darah.

2.2.2 Filum Nemathelminthes

Dari filum Nemathelminthes yang mungkin menyerang ikan air tawar, termasuk juga ikan-ikan konsumsi adalah Nematoda (Kabata,1985). Nematoda sering juga disebut cacing “gilig”, biasanya kecil bila dibandingkan dengan cacing pipih, sehingga banyak diantara nematode adalah cacing yang mikroskopis (Nable dan Nable, 1989). Menurut Kabata (1985), nematode ini mempunyai tubunh panjang dan silindris dan dilindungi oleh lapisan kutikula yang kuat dibawahnya terdapat lapisan hypodermis. Sedangkan Noble dan Noble (1989) mengatakan bahwa cacing ini sangat aktif, ramping, biasanya kedua ujungnya runcing dan mempunyai mulut dan anus, jadi cacing ini mempunyai saluran pencernaan yang lengkap.

Ciri taksonomi terpenting dari Nematoda adalah terletak di bagian kepalanya, dimana mempunyai bentuk yang lonjong dan di dalamnya terletak ganglion kepala (Kabata, 1985). Saluran pencernaan Nematoda berupa tabung sederhana terdiri dari sel-sel yang tersusun dalam lapisan tunggal. Mulut menuju kapsula bukali, kemuduan ke esophagus yang berotot yang selanjutnya ke usus. Anus terdapat hamper di ujung posterior cacing dan sebuah pelebaran yang dinamakan rectum terletak tepat di ujung anterior usus. Makanan nematode terdiri dari jaringan-jaringan hospes darah atau pemotongan jaringan dari usus hospes dan akhirnya dicerna (Noble dan Noble, 1989).

Dalam perkembangan hidupnya, nematode menggunakan ikan sebagai inang definitive maupun sebagai inang antara dari siklus hidup Nematoda. Dari empat tingkatan larva, keempat merupakan stadia infektif teerhadap inang definitif (Kabata, 1985).

Filum Acanthocephala

Pada ikan air tawar, parasit metazoan yang mungkin menyerang adalah dari Acanthocephala, dimana filum ini semuanya merupakan parasit. Bentuk tubuh luar yang dapat dikenali dari Acanthocepala adalah adanya proboscis, leher dan trunk (Kabata, 1985). Sedangkan menurut Noble dan Noble (1989), filum Acanthocephala ini disebut cacing kepala berduri karena adanya kait-kait mirip duri pada probosisnya (acanth berarti duri dan cephala berarti kepala). Acanthocephala merupakan caing yang berbentuk silinder, agak pipih dan mempunyai proboscis yang dapat dimasukkan dan dikeluarkan dari tubuhnya yang berada di ujung anterior tubuh (Kabata,1985).

Untuk mengidentifikasi spesies dari Acanthocephala adalah jumlah dan susunan kait pada probosis. Probosis berbentuk bulat atau silindris, dilengkapi baris-baris kait atau spina yang membengkak yang berguna untuk melekatkan tubuh cacing tersebut pada usus inangnya (Noble dan Noble, 1989).